Review Film V.I.P. Film V.I.P. (2017) karya Park Hoon-jung menjadi salah satu thriller Korea Selatan yang paling gelap dan kontroversial di eranya. Cerita berpusat pada Kim Kwang-il, putra seorang pejabat tinggi Korea Utara yang diduga pembunuh berantai lintas negara, dan bagaimana ia dilindungi oleh kekuasaan. Dibintangi Jang Dong-gun sebagai Kwang-il, Kim Myung-min sebagai detektif Chae, Park Hee-soon sebagai polisi Korea Selatan, dan Lee Jong-suk sebagai jaksa, film ini raih lebih dari 1 juta penonton di Korea meski menuai kritik atas kekerasan ekstremnya. Hingga 2025, V.I.P. tetap jadi pembicaraan karena kritik tajam terhadap korupsi, kekuasaan, dan impunitas orang berpengaruh, dengan gaya visual stylish tapi tanpa ampun. BERITA BOLA
Plot dan Intensitas Kekerasan: Review Film V.I.P.
Cerita dimulai saat polisi Korea Selatan tangkap Kwang-il atas serangkaian pembunuhan sadis perempuan di Hong Kong, Seoul, dan Bangkok. Bukti kuat, tapi tekanan dari atas—termasuk badan intelijen Korea dan Utara—paksa lepaskan dia karena status V.I.P. Detektif Chae dan jaksa Lee berjuang lawan sistem untuk bawa Kwang-il ke pengadilan, sementara polisi Korea Utara ikut campur untuk lindungi aset mereka.
Park Hoon-jung bangun plot dengan ritme cepat: adegan pembunuhan grafis di awal langsung tarik penonton ke kegelapan Kwang-il, lalu fokus pada birokrasi dan konspirasi yang lindungi dia. Kekerasan ekstrem—pemerkosaan, penyiksaan, pembunuhan dingin—tak ditahan, bikin film ini dilarang di beberapa negara atau versi sensor. Twist datang dari motif sebenarnya Kwang-il dan siapa yang benar-benar kendalikan permainan. Endingnya gelap dan sinis, tinggalkan rasa frustrasi atas ketidakadilan yang sering terjadi di dunia nyata.
Akting dan Karakter yang Kompleks: Review Film V.I.P.
Jang Dong-gun luar biasa sebagai Kwang-il: psikopat charming dengan senyum dingin yang bikin merinding—ia gambarkan pria berprivilege yang nikmati kekuasaan dan kekerasan tanpa rasa bersalah. Kim Myung-min solid sebagai detektif Chae: polisi idealis yang hancur karena sistem, penuh amarah tapi tak berdaya. Park Hee-soon dan Lee Jong-suk beri keseimbangan sebagai aparat yang terjebak moral abu-abu.
Karakter tak hitam-putih: Kwang-il monster, tapi dilindungi karena politik. Detektif dan jaksa ingin keadilan, tapi terpaksa langgar aturan. Chemistry antara Jang Dong-gun dengan lawan-lawannya penuh ketegangan—setiap tatapan atau dialog terasa seperti ancaman. Akting Jang Dong-gun, terutama di adegan siksaan, jadi salah satu penampilan villain paling ikonik di sinema Korea.
Arahan dan Elemen Teknis
Park Hoon-jung tunjukkan visi stylish: visual neon merah-biru dominan ciptakan atmosfer dingin dan korup, kontras dengan kekerasan mentah. Sinematografi fokus close-up wajah saat siksaan, bikin penonton ikut sesak. Editing cepat di aksi, lambat di momen psikologis, jaga suspense tanpa bosan.
Skor minimalis dengan drum berat tingkatkan paranoia, sementara lokasi dari Seoul sampai Hong Kong beri nuansa internasional. Film ini kritik tajam pada korupsi lintas negara, impunitas V.I.P., dan kegagalan hukum lindungi korban. Kekerasan grafis jadi alat naratif—tak sensasional, tapi tunjukkan betapa mudahnya kekuasaan hapus kejahatan. Pada 2025, elemen teknisnya masih efektif, terutama cara sutradara ubah thriller biasa jadi satire politik yang pedas.
Kesimpulan
V.I.P. adalah thriller gelap yang campur kekerasan brutal, kritik sosial tajam, dan akting top yang bikin karakter abu-abu terasa nyata. Park Hoon-jung ciptakan dunia di mana keadilan kalah dari kekuasaan, dukung penampilan ikonik Jang Dong-gun sebagai monster berprivilege. Film ini tak cuma suspense—ia sorot impunitas orang berpengaruh dengan cara tanpa ampun. Meski grafis dan sinis, V.I.P. wajib tonton bagi penggemar thriller Korea yang suka cerita politik gelap tanpa happy ending. Pada akhirnya, film ini ingatkan bahwa di dunia nyata, V.I.P. sering menang—dan itulah yang bikin marah sekaligus tak berdaya. Thriller kuat yang tetap relevan dan mengganggu bertahun-tahun kemudian.