Review Film Munich. Film Munich yang dirilis pada 2005 kembali menjadi perbincangan di akhir 2025 ini, terutama di tengah diskusi konflik Timur Tengah yang masih hangat. Disutradarai oleh Steven Spielberg, film ini mengisahkan operasi balas dendam rahasia Israel setelah pembantaian atletnya di Olimpiade Munich 1972. Dibintangi Eric Bana sebagai Avner Kaufman, pemimpin tim pembunuh bayaran, Munich menawarkan thriller politik yang gelap dan penuh pertanyaan moral. Dengan durasi sekitar 164 menit, film ini sukses kritis meski kontroversial, meraup lebih dari 130 juta dolar secara global, dan hingga kini dianggap salah satu karya Spielberg paling berani tentang harga kekerasan. BERITA BOLA
Operasi Rahasia dan Moral Abu-abu: Review Film Munich
Munich dimulai dengan rekonstruksi mencekam pembantaian Munich, di mana 11 atlet Israel tewas oleh kelompok Palestina. Pemerintah Israel kemudian tugaskan Avner, agen Mossad biasa yang baru punya anak, pimpin tim kecil untuk eliminasi 11 target yang dianggap terlibat. Timnya terdiri dari Robert (Mathieu Kassovitz) spesialis dokumen, Carl (Ciarán Hinds) yang bersihkan jejak, Hans (Hanns Zischler) ahli keuangan, dan Steve (Daniel Craig) sopir tangguh. Alur ikuti perjalanan mereka di Eropa—Roma, Paris, London, hingga Beirut—dengan misi yang semakin rumit: bom telepon, tembak jarak jauh, dan ledakan hotel. Cerita soroti bagaimana setiap pembunuhan ciptakan korban tak bersalah dan musuh baru, buat Avner ragu apakah operasi ini benar-benar adil atau hanya siklus balas dendam tak berujung. Spielberg tak pilih sisi; ia tunjukkan kedua belah pihak punya alasan manusiawi, membuat film ini lebih drama moral daripada thriller aksi biasa.
Penampilan Aktor dan Ketegangan Psikologis: Review Film Munich
Eric Bana tampil luar biasa sebagai Avner—dari agen percaya diri jadi pria hancur oleh paranoia dan rasa bersalah, dengan transformasi fisik dan emosional yang meyakinkan. Daniel Craig, sebelum jadi agen terkenal lain, berikan Steve yang dingin tapi setia, sementara Ciarán Hinds dan Geoffrey Rush sebagai handler Ephriam tambah kedalaman birokrasi. Chemistry tim terasa autentik, penuh debat tentang etika misi sambil tetap profesional. Spielberg bangun ketegangan bukan lewat ledakan besar, tapi melalui keheningan panjang, tatapan curiga, dan mimpi buruk Avner. Adegan seperti bom yang salah sasaran atau pertemuan tak sengaja dengan musuh ciptakan paranoia yang merembes ke penonton, membuat film ini terasa seperti thriller psikologis yang lambat membara.
Relevansi Historis dan Kontroversi Abadi
Munich terinspirasi buku “Vengeance” George Jonas, meski banyak detail diubah untuk dramatisasi. Film ini kritik siklus kekerasan—balas dendam hanya lahirkan lebih banyak dendam—tanpa jatuh ke propaganda. Saat rilis, ia kontroversial: sebagian tuduh Spielberg terlalu simpatik pada Palestina, sementara yang lain puji sebagai panggilan damai. Di akhir 2025, relevansinya semakin kuat di tengah konflik berkepanjangan, mengingatkan bahwa operasi rahasia sering bayar mahal dengan nyawa tak bersalah dan jiwa pelaku. Nominasi Oscar untuk Film Terbaik, Sutradara, dan Editing perkuat statusnya sebagai karya serius yang tak takut ajukan pertanyaan sulit tentang terorisme dan respons negara.
Kesimpulan
Munich tetap jadi salah satu thriller politik paling mendalam dari Steven Spielberg, dengan cerita balas dendam yang penuh moral abu-abu dan penampilan kuat Eric Bana. Film ini sukses gambarkan harga manusiawi di balik operasi intelijen, tanpa glorifikasi kekerasan atau solusi mudah. Meski pacing lambat dan durasi panjang buat sebagian penonton lelah, ia jauh lebih kaya daripada banyak film sejarah sezamannya. Di era konflik global yang tak kunjung reda, Munich terasa timeless sebagai pengingat bahwa siklus dendam hanya ciptakan lebih banyak korban. Layak ditonton ulang bagi yang suka drama cerdas dengan ketegangan psikologis dan pertanyaan etika yang tak pernah usang.