Review Film The Girl with the Needle: Perjuangan Buruh

Review Film The Girl with the Needle: Perjuangan Buruh

Review Film The Girl with the Needle: Perjuangan Buruh. Film The Girl with the Needle (Pigen med nålen, 2024) karya sutradara Denmark Magnus von Horn telah menjadi salah satu karya drama sejarah paling kuat dan banyak dibicarakan sejak penayangan perdananya di Festival Film Cannes Mei 2024. Hingga Februari 2026, film ini masih sering muncul di daftar “best films of 2024” dan rekomendasi drama historis di berbagai platform streaming serta festival, dengan rating rata-rata 7,1/10 dari penonton dan 94% di Rotten Tomatoes. Berlatar di Kopenhagen tahun 1918–1920 pasca-Perang Dunia I, film berdurasi 115 menit ini mengisahkan perjuangan nyata Dagmar Overbye (Trine Dyrholm) dan Karoline (Vic Carmen Sonne), dua wanita dari kelas pekerja yang terjebak dalam siklus kemiskinan, eksploitasi buruh, dan tragedi sosial. Dengan gaya visual hitam-putih yang tajam dan pendekatan realisme sosial yang keras, The Girl with the Needle bukan sekadar film sejarah; ia adalah potret telanjang tentang bagaimana sistem masyarakat mengorbankan perempuan miskin demi “kemajuan”. REVIEW FILM

Alur Cerita yang Keras dan Berbasis Fakta: Review Film The Girl with the Needle: Perjuangan Buruh

Cerita berpusat pada Karoline, seorang buruh pabrik yang hamil di luar nikah dan ditinggal pasangannya setelah perang. Ia bertemu Dagmar, seorang perawat yang menjalankan “rumah bayi” tidak resmi—tempat ibu-ibu miskin meninggalkan anak mereka dengan harapan anak itu akan diadopsi keluarga kaya. Namun realitas jauh lebih gelap: banyak bayi meninggal karena malnutrisi, kelalaian, atau bahkan dibunuh secara sistematis. Film tidak menghindari kekejaman: adegan-adegan kelahiran yang brutal, kematian bayi yang dingin, dan perjuangan Karoline mencari anaknya sendiri menjadi inti narasi yang sangat menyakitkan.
Alur berjalan tanpa jeda—dari pabrik yang mengeksploitasi buruh perempuan hingga rumah sakit yang menolak membantu ibu miskin, hingga keputusan tragis yang diambil karena kemiskinan dan keputusasaan. Tidak ada penjahat tunggal; sistem sosial, kemiskinan, dan patriarki yang menjadi musuh utama. Ending film terasa sangat pahit tapi jujur—tidak ada penebusan besar, hanya realitas bahwa bagi perempuan kelas bawah, pilihan sering kali hanya antara penderitaan dan tragedi.

Performa Trine Dyrholm dan Vic Carmen Sonne yang Memukau: Review Film The Girl with the Needle: Perjuangan Buruh

Trine Dyrholm memberikan penampilan yang sangat mengguncang sebagai Dagmar Overbye—perawat yang awalnya tampak peduli tapi sebenarnya terjebak dalam sistem yang ia sendiri benci. Matanya yang dingin dan gerakan yang lelah mencerminkan seseorang yang sudah terlalu lama melihat kematian bayi. Vic Carmen Sonne sebagai Karoline membawa kerapuhan dan kemarahan yang sangat autentik—ekspresinya saat menyadari nasib anaknya menjadi salah satu momen paling menyakitkan dalam film.
Kedua aktris ini berhasil membuat penonton ikut merasakan ketidakberdayaan dan kemarahan karakter mereka. Pemeran pendukung seperti Joachim Fjelstrup dan Besir Zeciri juga memberikan kontribusi kuat sebagai suami dan rekan buruh yang mewakili sistem patriarkal yang menindas perempuan dari segala sisi.

Sinematografi dan Atmosfer yang Dingin serta Menyiksa

Sinematografi oleh Michał Dymek menggunakan format hitam-putih 4:3 yang sempit, menciptakan rasa terkurung dan klaustrofobia yang sangat kuat—penonton benar-benar merasa terjebak bersama para karakter di dalam ruang sempit pabrik, rumah sakit, dan apartemen kumuh. Pencahayaan sangat minim dan kontras tinggi, membuat setiap wajah terlihat seperti lukisan ekspresionis yang penuh penderitaan. Adegan-adegan kekerasan dan kelahiran dibuat sangat realistis tapi tidak eksploitatif—fokus pada ekspresi wajah dan tangan yang gemetar daripada gore berlebihan.
Musik oleh Kristian Eidnes Andersen menggunakan motif piano yang repetitif dan suara ambient yang dingin, memperkuat rasa putus asa yang terus-menerus. Tidak ada musik emosional yang memaksa air mata; emosi datang dari keheningan dan suara alam yang keras—tangisan bayi, mesin pabrik, dan hujan yang tak berhenti.

Makna Lebih Dalam: Perjuangan Buruh Perempuan dan Sistem yang Menghancurkan

Di balik cerita tragis, The Girl with the Needle adalah kritik tajam terhadap sistem kapitalis dan patriarkal pasca-Perang Dunia I. Perempuan buruh seperti Karoline dan Dagmar tidak punya pilihan: bekerja di pabrik dengan upah rendah, hamil di luar nikah berarti kehilangan pekerjaan, dan meninggalkan anak adalah satu-satunya cara bertahan hidup. Rumah bayi yang dikelola Dagmar bukanlah kejahatan individu, melainkan gejala dari sistem yang tidak memberikan ruang bagi ibu miskin.
Film ini juga menyentil tema aborsi ilegal, eksploitasi tubuh perempuan, dan bagaimana masyarakat menghukum perempuan yang “berbuat salah” sementara membiarkan pria bebas dari tanggung jawab. Makna terdalamnya adalah bahwa “kebaikan” sering kali adalah kemewahan yang hanya dimiliki kelas atas—bagi buruh perempuan, kebaikan adalah kemewahan yang tidak terjangkau.

Kesimpulan

The Girl with the Needle adalah film yang langka: keras sekaligus penuh empati, menyedihkan sekaligus sangat manusiawi, dan sangat relevan tanpa terasa memaksa. Kekuatan utamanya terletak pada performa Trine Dyrholm dan Vic Carmen Sonne yang luar biasa, sinematografi hitam-putih yang mencekam, dan arahan Magnus von Horn yang tidak takut menunjukkan sisi paling gelap dari sejarah sosial. Film ini berhasil menjadi drama sejarah yang tidak hanya menceritakan tragedi masa lalu, tapi juga mengingatkan kita pada ketidakadilan yang masih ada hingga sekarang. Jika kamu mencari film yang tidak hanya menghibur tapi juga membuatmu marah dan berpikir tentang eksploitasi perempuan buruh serta sistem yang menghancurkan mereka, The Girl with the Needle adalah pilihan yang sangat tepat. Tonton sekali saja mungkin tidak cukup—karena setiap kali ditonton ulang, kamu akan semakin merasakan betapa beratnya perjuangan yang mereka hadapi. Film ini bukan sekadar drama sejarah; ia adalah pengingat bahwa perjuangan buruh perempuan bukan cerita masa lalu—ia adalah cerita yang masih berlangsung hingga hari ini. Dan itu, pada akhirnya, adalah pesan paling menyakitkan sekaligus paling penting dari sebuah film.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *